Karya Cerita Milikku
“LENTERA
MALAM”
Karya: Jati
“Aris!!....”
“Eh….ya, ada apa?”
“Kudengar kamu akan keluar dari sekolah ini, benarkah?!”
Hatiku terasa hampa, suara hujan pun semakin keras
menusuk jantungku. Kini aku kehabisan kata-kata, kata-kata untuk menjawab
pertanyaan sahabatku. Mungkin saja jika pada hari itu tak terjadi hal yang
buruk, bisa saja saat ini aku masih bersenda gurau dengan sahabatku itu
dikantin.
“Emmm…. Anton…. aku….. maafkan aku……”
Disuatu pagi, terdengar suara cekcok dari dapur. Suara
piring pecah, kursi yang patah, hingga kompor yang menabrak pintu. Aku tak suka
keadaan ini, namun aku bisa apa, mendengar kedua orang tua ku bertengkar. Aku
tak bisa apa-apa, mendengar ayahku dengan brutal melemparkan sandalnya ke pintu
kamarku. Mendobrak paksa pintuku yang terkunci sambil menyiramiku dengan air.
“ANAK TAK TAHU DIRI!! Cuman bisanya bermain saja tanpa
tahu jerih payah orang tuanya bekerja!!! Sampai adikmu mat….”
“Yah!! Sudah hentikan!!(menampar ayah dengan keras)”
Ibu menarik tanganku keluar dari kamar. Sambil terdiam
meratapi nasibku sebagai bahan pelampiasan ayahku.
“APA AKU MATI SAJA YA?”
“Tenangkan dirimu Aris! Duduk dan minumlah dulu.”
Kulihat sekeliling, tak hanya sahabatku Anton yang berada
di sampingku, teman sekelasku bahkan kakak kelas yang mengenalku pun
mendekatiku.
“Kakak….ayo kita beli es krim.”
“Ayo….. sebentar ya teman-teman.”
Ku berjalan melintasi lampu merah yang sedang menyala.
Namun tak disangka, merah yang kulihat tak hanya dari lampu lalu lintas, tapi
juga orang di hadapanku. Sinta, adikku tertabrak truk yang melintas sangat
kencang. Seketika aku jatuh lemas, meratapi darah Sinta berceceran di jalan.
Orang-orang keluar dari mobilnya, menarikku ke tepi jalan, teman-temanku
menenangkanku di trotoar. Aku tak berdaya, tak kuasa meneteskan air mata. Semua
terjadi begitu cepat, bahkan suara sirine ambulan pun sudah seperti terompet
sangkakala di telingaku.
“Sinta….(suara ayah menangis histeris)”
“Sayangku….(suara ibu, menangis sambil memegangi tas
adikku)”
Hari itu adalah kiamat bagiku, ayahku sangat mencintai
adikku. Setelah kehilangannya, ia sering pergi malam-malam dan pulang
shubuh-shubuh. Membawa pulang sebotol alkohol sembari menggedor-gedor pintu
rumah disetiap harinya. Sering sekali ayah dan ibuku cekcok karena itu, bahkan
setelah 100 hari adikku pun, ayahku selalu melampiaskan kekesalannya kepadaku.
“APA AKU MATI SAJA YA?”
“Ada apa ini ramai-ramai? Aris…. apa yang terjadi?”
Lorong yang tadinya sepi, seketika menjadi semakin ramai.
Banyak orang penasaran tentang apa yang terjadi, sampai wali kelasku
menghampiri. Jantungku terasa berhenti berdetak, rasanya ingin MATI saja.
Mengingat keseharianku sebagai siswa sebentar lagi akan berakhir, aku menatap
semua temanku dengan berkaca-kaca. Aku berdiri dari bangku, segera berlari
menuju gerbang sekolah, mengabaikan teriakan teman-temanku.
“PERGI SAJA KAU DARI RUMAH INI!!! Aku tak butuh anak
sepertimu!(suara ayah)”
“Kakak…. sakit…. tolong….(suara Sinta)”
“Aris….. ini bukan salahmu…. maafkan ibu….(suara ibu)”
“Aris, tenangkan dirimu.....(suara Anton)”
“DIAM!!! AKU TAK BUTUH BELAS KASIH KALIAN!!! LEBIH BAIK
AKU MATI SAJA SEKARANG!!!(suara Aris)”
Ku terjatuh tepat di depan gerbang, aku tak tahu apa yang
terjadi padaku kemudian. Yang terakhir ku lihat hanyalah satpam sekolah yang
mengangkatku dan orang-orang sekitar yang melihatku.
“Kakak…. bangunlah…. masih belum waktunya…. ini semua
bukan salahmu...(suara Sinta)”
Aku terbangun di rumahku, terdengar sirine ambulan yang seperti
mencekik ku. Aku segera keluar dari kamar dan melihat ayahku diangkut ambulan
dalam keadaan lemas. Benar-benar aku tak tahu apa yang telah terjadi. Aku
berteriak memanggil ibu, aku menemukannya dan langsung memeluknya. Pelukannya terasa lebih dingin
dari biasanya, mungkin ibuku hanya syok melihat anaknya dapat melihat bahkan
merasakan keberadaannya meskipun ia sekarang hanyalah sebuah ruh.
“Aris…. sekarang kamu ikutlah dengan kami, kau sudah tak
ada siapa-siapa lagi di sini. Sekarang, ini hanyalah rumah kosong dengan segala
memori masa lalumu.(suara bibi)”
Jarang-jarang bibiku datang, dan kali ini ia bahkan
mengajakku pergi dengannya. Mulutku mengatakannya:
“Iya bi…. aku ikut.”
Aku
kembali ke kamarku, menginjak serpihan kaca yang berserakan di lantai dengan
sandalku. Mengemasi seluruh barangku hingga mengambili jemuran di belakang rumah.
Sekarang semua sudah sunyi, hanya terdengar suara orang ribut di depan rumah,
bibiku menyusul sambil membantu mengemasi barangku.
“Tenang
saja ris…. kamu tak perlu khawatir dengan pendidikanmu, kamu akan bibi
sekolahkan di sekolah terbaik di kota. Sudah janganlah cemas.”
“Tidak
kok bi…. aku hanya bingung, bagaimana bisa aku masih bisa hidup setelah 4 bulan
kejadian itu.”
Bibi
memasang muka terkejut namun ia memakluminya.
“Terkadang
kita dipaksa menghadapi sebuah masalah yang mungkin tidak bisa kita terima,
tapi dengan beginilah kita bisa mendapat pengalaman. Sesulit apapun masalah
yang dihadapi, asal kita mau beristiqamah semua pasti bisa dihadapi.”
“Bersabarlah
Aris, keluargamu pasti sangat menyayangimu. Bahkan meski ayahmu selalu bersikap
kasar, ia tak pernah sekalipun mencoba membunuhmu.(suara paman)”
Paman
menghampiriku dan membantu mengangkat jemuran terakhir di rumah ini. Setelah 3 minggu berlalu, aku sekarang menjadi keluarga bibi, sekarang aku sudah berada di lingkungan baru dan memiliki teman-teman
baru. Aku masih kontak dengan teman lama dan wali kelasku dulu. Meski aku masih
merasa trauma, tapi paman dan bibi ku memperlakukanku seperti anaknya sendiri.
Aku sadar bahwa semua orang tak seharusnya memendam masalahnya sendirian,
berkomunikasi satu sama lain, dan saling mengintrospeksi diri. Stress bukanlah hal
yang dapat dimaklumi, bisa saja hal ini dapat berdampak lebih buruk pada
orang-orang yang kurang mental. Tapi yang pasti, aku tahu bahwa peranku disini
bukan seperti seekor nyamuk yang selalu tidak diharapkan keberadaannya, tapi seperti
seekor beruang yang dituntut hidup mandiri dalam segala kondisi dan keadaan, sama juga seperti lentera yang dituntut harus tetap menyala diantara kegelapan malam.
Keluarga ku sangat menyayangi ku, bahkan setelah semuanya hancur, aku masih
mengenang masa-masa indah bersama mereka.

ROWRTR
BalasHapusmakasih dah tengok
Hapushahaha
BalasHapusLoplop
BalasHapusMakasih
Hapus